LegendaBahasa Jawa Tangkuban Perahu Oleh Diposting pada 18/02/2021. 19022021 CERITA RAKYAT BAHASA INGGRIS TANGKUBAN PERAHU. 03092020 Legenda Tangkuban Perahu dalam Bahasa Inggris dan Artinya. Tangkuban Perahu Google Search Perahu Legenda Tempat. One day as common Sangkuriang go to backwoods for chasing. dalambahasa jawa. cerita pendek sangkuriang bonny cerpen blogspot com. naskah drama sangkuriang legenda tangkuban perahu. cerita bahasa inggris sangkuriang tangkuban perahu. aditramadhan blogspot com contoh dialog legend bahasa inggris Naskah Drama Cerita Rakyat Sangkuriang June 22nd, 2018 - Cerita legenda Sangkuriang merupakan salah satu cerita FotoGunung Tangkuban Perahu Terbaru - Tempat Wisata via Dialog Drama Cerita Rakyat Nusantara - Contoh O via contoho.blogspot.co.id Contoh Dongeng Legenda Tangkuban Perahu - Contoh Itu via contohitu.blogspot.com Cerita Legenda Malin Kundang - Panduanmu via contoh-teks.blogspot.co.id Legenda Sangkuriang via www.slideshare.net Vay Tiền Nhanh Ggads. Awalnya diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan celeng bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewa-dewi kembali. Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring keladi hutan, dalam versi lain disebutkan air kemih sang raja tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama Celeng Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia adalah seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong torak yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan. Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka. Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah lalapan. Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga danau dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang makhluk halus, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang kain putih hasil tenunannya, maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib ngahiyang. In this research, the meaning of the legend of “Gunung Tangkuban Parahu” is analyzed. The problem in this research is to investigate how denotation, connotation, as well as myth in the legend of “Gunung Tangkuban Parahu”. The objective of this research is to know denotation meaning as signifier, connotation meaning as signifier, as well as myth in the legend of “Gunung Tangkuban Parahu”. Roland Barthes’s semiotics theory is used in this research which identified two orders of signification, the first order signification is the language aspect, and the second one is the mythical aspect. The method used in this research is qualitative research method. Based on the result, it is found the denotation of Gunung Tangkuban Parahu” as a signifier, the connotation of Gunung Tangkuban Parahu as a signifier of forbidden love between mom and son, and the myth of Gunung Tangkuban Parahu which is formed from an upside down boat. Figures - uploaded by Ilham MunandarAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Ilham MunandarContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 1 Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Parahu” Suatu Kajian Semiotik Ilham Munandar, Dian Indira Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran ilham19021 Abstract In this research, the meaning of the legend of “Gunung Tangkuban Parahu” is analyzed. The problem in this research is to investigate how denotation, connotation, as well as myth in the legend of “Gunung Tangkuban Parahu”. The objective of this research is to know denotation meaning as signifier, connotation meaning as signifier, as well as myth in the legend of “Gunung Tangkuban Parahu”. Roland Barthes’s semiotics theory is used in this research which identified two orders of signification, the first order signification is the language aspect, and the second one is the mythical aspect. The method used in this research is qualitative research method. Based on the result, it is found the denotation of Gunung Tangkuban Parahu” as a signifier, the connotation of Gunung Tangkuban Parahu as a signifier of forbidden love between mom and son, and the myth of Gunung Tangkuban Parahu which is formed from an upside down boat. Keywords Semiotics; Roland Barthes; Gunung Tangkuban Parahu; myth. Intisari Dalam penelitian ini dikaji makna di balik legenda “Gunung Tangkuban Parahu”. Permasalahan yang dibahas yaitu bagaimana makna denotasi, makna konotasi, serta mitos yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu”. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui makna denotasi yang menjadi penanda, makna konotasi yang menjadi penanda, serta mitos yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu”. Teori semiotika model Roland Barthes digunakan dalam penelitian ini yang mengidentifikasi dua tahapan penandaan, tahapan pertama yaitu mengenai aspek bahasa denotasi dan konotasi, dan tahapan kedua mengenai aspek mitos. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan makna denotasi Gunung Tangkuban Parahu sebagai penanda, makna konotasi Gunung Tangkuban Parahu sebagai penanda cinta terlarang ibu dan anak, serta mitos Gunung Tangkuban Parahu yang terbentuk dari perahu yang terbalik. Kata kunci Semiotika; Roland Barthes; Gunung Tangkuban Parahu; mitos. Pendahuluan Sebuah cerita rakyat dalam suatu wilayah memiliki suatu makna yang menandakan sebuah fenomena yang terjadi di masa lampau dan menjadi warisan budaya bagi masyarakatnya. Menurut Sugono 2008 280 cerita rakyat mempunyai arti sebagai cerita yang terjadi pada zaman dahulu yang kemudian hidup di tengah masyarakat dan diwariskan secara lisan. Cerita rakyat hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan diwariskan kepada setiap NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 2 keturunannya dengan cara lisan dari satu generasi ke generasi yang lain agar tetap terjaga dan menjadi warisan kekayaan budaya mengenai asal-usul dari sebuah fenomena yang terjadi. Keberadaan cerita rakyat tersebut sudah terdengar akrab di kalangan masyarakat luas, karena di dalamnya terdapat pesan-pesan moral dan kearifan lokal suatu daerah yang dapat ditangkap dan dipelajari dalam melakukan suatu perbuatan. Tidak sedikit juga sebuah cerita rakyat memiliki mitos-mitos yang dipercaya oleh masyarakat daerahnya yang berkaitan dengan fenomena sejarah mengenai asal-usul terbentuknya suatu tempat, seperti dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu”. Tidak sedikit masyarakat di Jawa Barat yang mengetahui legenda “Gunung Tangkuban Parahu”, karena diyakini cerita tersebut tidak hanya sebatas cerita rakyat, tetapi juga merupakan asal-usul terbentuknya dari Gunung Tangkuban Parahu. Legenda “Gunung Tangkuban Parahu” merupakan salah satu cerita rakyat yang hidup di masyarakat Jawa Barat. Cerita rakyat tersebut menceritakan tokoh yang bernama Sangkuriang yang mencintai ibu kandungnya sendiri bernama Dayang Sumbi, yang kemudian cerita tersebut dikaitkan dengan asal-usul keberadaan Gunung Tangkuban Parahu. Legenda yang mengandung mitos asal-usul berdirinya Gunung Tangkuban Parahu menarik untuk dikaji dari sisi linguistik dalam bidang kajian semiotik. Tokoh semiotik yang membedah masalah mitos adalah Roland Barthes 1915-1980. Barthes mengembangkan diadik dari Ferdinand de Saussure 1857-1913 bahwa tanda sign merupakan hubungan antara penanda signifier dan petanda signified. Barthes tidak hanya sebatas mengkaji masalah kebahasaan, tetapi juga dapat mengkaji hal-hal di luar kebahasaan dan menambahkan dua tahap penandaan dalam setiap menganalisis tanda. Tahap pertama berkaitan dengan makna denotasi dan konotasi, dan tahap kedua mitos. Seperti pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yelly 2019 berjudul “Analisis Makhluk Superior Naga dalam Legenda Danau Kembar Kajian Semiotika Roland Barthes; Dua Pertandaan Jadi Mitos”, dijelaskan mengenai makna denotasi naga sebagai penanda dan makna konotasi naga sebagai tanda, serta mitos dari sebuah danau yang berasal dari darah yang dikeluarkan oleh naga dalam legenda “Danau Kembar” dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Teori semiotika Barthes ini tepat untuk digunakan sebagai acuan dalam menganalisis legenda “Gunung Tangkuban Parahu”, karena pendekatan semiotik Barthes secara khusus tertuju pada speech yang disebut mitos. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dikaji tentang makna denotasi, konotasi, serta mitos yang terkandung dalam legenda “Gunung Tangkuban NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 3 Parahu” dengan menggunakan teori semiotika Barthes. Dengan demikian permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu bagaimana makna denotasi, makna konotasi, serta mitos yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna denotasi yang menjadi penanda, makna konotasi yang menjadi tanda, serta mitos yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu”. Semiotika merupakan kajian yang membahas mengenai tanda. Saussure 2011 68 mengungkapkan bahwa semiotika atau semiologi merupakan ilmu yang mengkaji tanda-tanda dalam kehidupan sosial yang mempunyai makna tertentu. Lebih lanjut, Brown dan Miller 2013 399 menjelaskan lebih spesifik bahwa tanda tersebut dapat mencakup kajian bahasa atau pun nonbahasa, misalnya pakaian adat, ekspresi wajah, gerak-isyarat tangan, dan sebagainya. Dengan demikian, dalam kehidupan sosial sangat berkaitan erat dengan semiotika, karena masyarakat dalam kehidupan sosial menyampaikan tanda-tanda baik melalui tuturan atau pun isyarat gerakan untuk menandai sesuatu. Semiotika Barthes mengacu pada semiotika Saussure bahwa tanda terdiri dari penanda signifier dan petanda signified. Barthes 1972 111 mengembangkan hubungan antara penanda dan petanda ini menyangkut pada objek yang memiliki hal berbeda, dan karena inilah kenapa hal ini bukan satu persamaan equality tetapi merupakan satu kesetaraan equivalence. Dengan demikian, kedua istilah tersebut saling berkorelasi satu sama lain dalam menganalisis suatu tanda. Barthes 1986 9 menyatakan bahwa tujuan dari semiotika adalah meneliti sistem tanda apa saja, apapun hakikat dan batas mereka. Barthes menyajikan dua tahap penandaan dalam menganalisis sebuah tanda yaitu denotasi, dan konotasi. Tahap yang pertama merupakan tanda denotatif yang terdiri dari penanda dan petanda yang secara bersamaan juga merupakan penanda konotatif yang sudah termasuk pada tahap kedua dalam tahapan penandaan. Bagaimana makna denotasi menjadi konotasi, serta mitos sangat menarik untuk diteliti. Berger 2010 15 mengatakan bahwa makna denotasi melibatkan makna sebuah uraian yang harfiah dan terperinci, sebuah kata atau ukuran benda-benda. Sedangkan, makna konotasi melibatkan makna budaya dan mitos yang berkaitan dengan kata-kata dan hal-hal. Dengan kata lain, makna denotasi bersifat langsung yang terdapat dalam suatu tanda dari sebuah petanda, sedangkan makna konotasi akan dihubungkan dengan kebudayaan yang tersirat. Mitos merupakan sistem komunikasi, sebuah pesan yang memungkinkan seseorang merasa bahwa mitos tidak dapat dianggap sebagai suatu objek, konsep, atau gagasan, melainkan sebuah cara penandaan. Segala sesuatu dapat menjadi mitos asalkan hal tersebut NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 4 disampaikan oleh sebuah wacana, karena mitos merupakan jenis ujaran. Namun, mitos tidak ditentukan oleh objek pesannya, melainkan oleh cara ia menyampaikan pesannya Barthes 1972 107. Barthes 1972 108 mengatakan bahwa “ujaran yang dimaksud merupakan sebuah pesan yang dapat terdiri dari berbagai tulisan atau gambaran; tidak hanya wacana tertulis, tapi juga fotografi, film, laporan, olahraga, sepatu, atau publisitas. Mitos tidak dapat ditentukan oleh objek maupun materinya karena semua materi dapat bersifat manasuka dalam pemberian makna”. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah mitos Barthes memiliki makna yang berbeda dengan konsep mitos pada umumnya, yaitu memaparkan fakta dari sebuah tanda, bukan konsep mitos tradisional yang dikaitkan dengan dunia supranatural. Barthes 1972 113 mengungkapkan bahwa mitos merupakan sistem khusus yang dibentuk dari rantai semiologis yang sudah ada sebelumnya yakni sistem semiologis tataran kedua. Hal itu merupakan tanda dalam sistem pertama yang menjadi penanda belaka pada sistem kedua. Aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” menandai suatu fenomena yang hadir di masyarakat. Mitos menurut Barthes terletak pada tataran kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem tanda-penanda-petanda, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Diagram 1. Dua tahapan penandaan semiotika Barthes 1972 113 Bahasa/Denotasi Mitos/Konotasi Metode Penelitian Metode digunakan sebagai cara untuk menerapkan hasil analisis data Sudaryanto 2015. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Dengan metode ini, peneliti menguraikan analisis data-data yang ada mengenai makna denotasi, makna konotasi, serta mitos yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu” dengan menggunakan kata-kata. Penyediaan data dilakukan dengan menggunakan metode simak. Mahsun 2014 92 berpendapat bahwa metode simak merupakan cara yang digunakan untuk memperoleh data dengan melakukan penyimakan NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 5 terhadap penggunaan bahasa. Penyimakan tersebut tidak hanya menyimak yang berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tapi juga dengan penggunaan bahasa secara tertulis. Sumber data dalam penelitian ini diambil dari 2016 yang menyajikan cerita rakyat berjudul legenda “Gunung Tangkuban Parahu”. Dalam tahap penyediaan data, peneliti membaca dan menyimak seluruh penggunaan bahasa yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu”, kemudian menentukan dan mencatat makna denotasi, makna konotasi, serta mitos. Dalam tahap penentuan makna tersebut, peneliti menggunakan teknik catat untuk mengumpulkan data dari hasil penyimakan dalam sumber data tersebut. Data yang didapatkan kemudian dianalisis dengan menggunakan teori semiotika Barthes yang mengidentifikasi sebuah tanda dengan menggunakan dua tahapan penandaan. Dalam tahap analisis data, peneliti menguraikan makna denotasi, makna konotasi, serta mitos yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu” dengan menggunakan metode padan. Metode padan digunakan sebagai cara untuk membedah sebuah data dengan alat penentunya yang berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan Sudaryanto, 2015 15. Metode tersebut digunakan sebagai cara memecahkan masalah dengan menggambarkan suatu objek. Hasil dan Pembahasan Asal-usul Legenda “Gunung Tangkuban Parahu” Pada zaman dahulu diceritakan sebuah kisah seorang putri raja yang cantik jelita bernama Dayang Sumbi. Ia sangat terkenal di seluruh penjuru kerajaan dan diperebutkan oleh semua laki-laki. Namun, karena ucapan sumpahnya, Dayang Sumbi menikah dengan si Tumang yang merupakan jelmaan dewa berparas tampan dengan wujud anjing yang selalu menemaninya, kemudian mempunyai anak yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang mandiri dan tangkas, dan pandai dalam memanah. Suatu hari Dayang Sumbi sangat ingin memakan hati rusa, kemudian menyuruh Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu ditemani oleh si Tumang. Di tengah pencarian, Sangkuriang menemukan babi hutan dan menyuruh si Tumang untuk mengejarnya. Namun, si Tumang tidak menuruti keinginan Sangkuriang, dia hanya duduk terdiam memandang Sangkuriang. Sangkuriang pun merasa kesal, dan tanpa disengaja ia melepaskan anak panah yang diarahkan ke si Tumang dan membunuhnya tanpa mengetahui bahwa si Tumang adalah ayah kandungnya. Kemudian Sangkuriang mengambil hati si Tumang dan memberikannya kepada Dayang Sumbi dengan perasaan takut akan dimarahi oleh ibunya ketika mengetahui bahwa hati yang diberikan NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 6 bukanlah hati rusa. Benar saja, setelah Dayang Sumbi mengetahui kebenaran bahwa hati yang diberikan oleh Sangkuriang adalah hati si Tumang, Dayang Sumbi sangat marah dan memukul kepala Sangkuriang dengan keras menggunakan centong nasi sehingga meninggalkan bekas luka yang besar. Karena Sangkuriang merasa sangat menyesal, ia pergi meninggalkan ibunya dan pergi berkelana. Di sisi lain, Dayang Sumbi merasa sangat menyesal telah melukai anak satu-satunya, kemudian ia bertapa untuk menenangkan pikirannya. Setelah sekian lama, akhirnya Sangkuriang dan Dayang Sumbi dipertemukan kembali. Bukan sebagai ibu dan anak melainkan sebagai sepasang kekasih, karena Sangkuriang telah tumbuh menjadi pria tampan yang gagah perkasa, dan Dayang Sumbi diberkahi dengan umur yang panjang dan awet muda. Mereka tidak menyadari satu sama lain bahwa mereka sebenarnya ibu dan anak. Namun, ketika Dayang Sumbi menyisirkan rambut Sangkuriang, ia melihat ada bekas luka yang besar di kepala Sangkuriang dan teringat kejadian saat ia memukul kepala anaknya. Dayang Sumbi menjelaskan bahwa Sangkuriang adalah anaknya, namun Sangkuriang tidak memperdulikannya dan tetap ingin menikahi Dayang Sumbi. Untuk menghindari hal itu terjadi, Dayang Sumbi meminta hal yang mustahil kepada Sangkuriang untuk membuatkan sebuah danau beserta perahunya dalam waktu satu malam, Sangkuriang pun menyanggupi permintaannya. Ia dibantu oleh para jin mulai membuat danau dengan membendung sungai Citarum dan membuat perahu dengan sangat cepat. Melihat hal itu, Dayang Sumbi menebarkan kain-kain di arah timur dan memohon kepada dewa agar Sangkuriang tidak berhasil menyelesaikan permintaannya. Kemudian kain-kain tersebut mengeluarkan cahaya kemerah-merahan di ufuk timur, membuat ayam berkokok dan membuat Sangkuriang mengira bahwa pagi akan tiba. Sangkuriang merasa usahanya gagal dan mulai mengamuk dengan menendang perahu yang dibuatnya sampai jatuh tertelungkup dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu. Setelah itu, Dayang Sumbi mendadak menghilang dan Sangkuriang terus mencarinya hingga ia pun menghilang bak ditelan bumi. Analisis Legenda “Gunung Tangkuban Parahu” Semiotika yang dikembangkan oleh Barthes mengacu pada dua tahapan penandaan, tahap pertama yaitu denotasi yang merupakan aspek bahasa itu sendiri, dan tahap kedua yaitu konotasi yang merupakan aspek mitos. Referensi denotasi lebih sering disebut sebagai sistem penandaan tataran pertama first order of signification, sedangkan untuk konotasi disebut NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 7 sebagai sistem penanda tataran kedua second order of signification. Berikut ini merupakan analisis legenda “Gunung Tangkuban Parahu” dengan menggunakan teori semiotik model Roland Barthes mengenai dua tahapan penandaan. Penanda Legenda “Gunung Tangkuban Parahu” Petanda Gunung yang berbentuk perahu terbalik Kisah cinta terlarang ibu dan anak antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi Bentuk kekesalan dan kemarahan Sangkuriang terhadap kegagalan yang dialami karena tidak mampu menyelesaikan permintaan Dayang Sumbi orang yang ingin dinikahinya sekaligus ibu kandungnya untuk membuat danau dan perahu dalam waktu satu malam Perahu yang jatuh terbalik berubah menjadi Gunung Denotasi Sebuah tanda dari suatu petanda memiliki makna denotasi yang bersifat langsung dan eksplisit. Seperti pada legenda “Gunung Tangkuban Parahu” yang merujuk pada peristiwa asal-usul terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu di daerah Jawa Barat, tepatnya di kawasan Cikole Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Gunung tersebut memiliki ketinggian ± Mdpl menjadi salah satu destinasi tempat wisata yang terkenal. Gunung Tangkuban Perahu memiliki daya tarik bagi wisatawan, selain gunung tersebut termasuk ke dalam salah satu gunung berapi yang masih aktif dan memiliki beberapa kawah yang bisa dilihat dari dekat, sejuknya udara pegunungan serta letaknya tidak begitu jauh dari Kota Bandung, turut mendukung untuk menjadikan Gunung Tangkuban Parahu sebagai destinasi wisata yang diminati. NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 8 Gambar 1. Gunung Tangkuban Parahu sumber Dari nama gunung itu sendiri telah menyiratkan makna denotasi yaitu gunung berbentuk perahu yang terbalik, karena bila dilihat dari kejauhan memang terlihat serupa dengan perahu besar dalam posisi terbalik. Mengingat gunung tersebut terletak di daerah tempat masyarakat Sunda berada, maka penamaan gunung tersebut diambil dari bahasa Sunda. Istilah gunung di dalam Bahasa Indonesia memiliki makna yang sama dengan gunung di dalam bahasa Sunda. Tangkuban Parahu terdiri atas dua kata yang berasal dari bahasa Sunda, yaitu Tangkuban dan parahu. Kata tangkuban berasal dari kata dasar tangkub “telungkup” merupakan kata yang biasanya digunakan untuk barang yang tergeletak dimana posisi yang biasanya berada di atas menjadi di bawah Satjadibrata, 1954 400. Kata tangkub ini ditambahkan dengan akhiran sufiks -an sebagai pembentuk nomina menjadi tangkuban. Kemudian kata parahu mempunyai arti “perahu”, dalam KBBI V Daring perahu’ merupakan sebuah kendaraan air yang lancip pada kedua ujungnya dan lebar di tengahnya 2016. Konotasi Makna konotasi dari GunungTangkuban Parahu sebagai penanda cinta terlarang antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi sebagai ibu dan anak. Sangkuriang yang telah lama terpisah dari ibunya, Dayang Sumbi, terkesima melihat kecantikannya. Sebagai ibu yang melahirkan Sangkuriang, Dayang Sumbi tetap dapat mengenali anaknya dan tidak bisa menerima pinangan dari Sangkuriang. Penjelasan Dayang Sumbi tidak ia percayai dan tetap bersikeras ingin memperistri Dayang Sumbi. Kemudian Dayang Sumbi mensyaratkan satu permintaan kepada Sangkuriang untuk dilakukan jika ingin menikahinya yaitu membuat danau lengkap dengan perahunya hanya dalam waktu satu malam. Karena Sangkuriang sangat mencintai dan NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 9 ingin menikahi Dayang Sumbi akhirnya dia menyanggupi dan mengerjakannya dengan bantuan dari para jin. Namun, Dayang Sumbi tidak ingin pekerjaan yang dilakukan oleh Sangkuriang itu selesai, maka Dayang Sumbi menggagalkan usaha yang dilakukan Sangkuriang dengan menebarkan kain-kain hasil tenunannya di arah timur. Atas bantuan dewa, kain-kain tersebut mengeluarkan cahaya kemerahan dan membuat ayam-ayam jantan bangun dan berkokok seakan pagi sudah tiba, dan membuat para jin yang membantu Sangkuriang kabur ke dalam tanah dan meninggalkannya dengan pekerjaan membuat danau dan perahu. Sangkuriang merasa kesal dan marah karena gagal menyelesaikan permintaan Dayang Sumbi, kemudian menghancurkan bendungan yang hampir jadi membentuk sebuah danau, dan menendang perahu yang dibuatnya dengan sangat kencang hingga jatuh dengan posisi terbalik. Setelah itu , Dayang Sumbi melarikan diri dan menghilang, Sangkuriang yang mencarinya pun ikut menghilang tanpa jejak. Mitos Mitos dalam semiotika Barthes merupakan pengembangan dari konotasi yang sudah lama terbentuk dan menjadi suatu pandangan masyarakat. Mitos yang terdapat dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu” adalah perahu yang ditendang oleh Sangkuriang kemudian terjatuh dalam posisi terbalik berubah menjadi gunung yang saat ini dikenal dengan Gunung Tangkuban Parahu. Gunung ini mempunyai bentuk seperti perahu dengan posisi yang terbalik apabila dilihat dari arah selatan. Namun, ketika dilihat dari arah yang lain seperti arah timur atau utara, bentuk gunung tersebut tidak menyerupai perahu yang terbalik, melainkan seperti gunung biasa pada umumnya. Masyarakat yang berada di daerah sekitar Gunung Tangkuban Parahu meyakini bahwa cerita dari legenda “Gunung Tangkuban Parahu” itu diciptakan oleh orang yang tinggal di daerah selatan, karena hanya dari arah selatan bentuk gunung tersebut terlihat seperti perahu yang terbalik. Simpulan Berdasarkan hasil analisis di atas, ditemukan makna denotasi, makna konotasi, dan mitos dalam legenda “Gunung Tangkuban Parahu” dengan menggunakan teori semiotik model Roland Barthes. Makna denotasi yang ditemukan adalah Gunung Tangkuban Parahu sebagai penanda yang merujuk pada salah satu nama gunung yang ada di daerah Jawa Barat. Makna konotasi yang ditemukan adalah Gunung Tangkuban Parahu sebagai penanda cinta terlarang NUSA, Vol. 16 No. 1 Februari 2021 Ilham Munandar, Dian Indira, Makna di Balik Legenda “Gunung Tangkuban Perahu” Suatu Kajian Semiotik 10 antara ibu dan anak, dan bentuk dari kekesalan dan kemarahan Sangkuriang karena gagal memenuhi syarat untuk bisa menikahi Dayang Sumbi. Kemudian, mitos yang terdapat pada Legenda Gunung Tangkuban Parahu adalah asal muasal terbentuknya gunung berbentuk perahu yang terbalik bahasa Sunda tangkub terbalik’ yang dipercayai merupakan perahu yang ditendang oleh Sangkuriang yang dirasuki kemarahan karena gagal membuat perahu tepat waktu hingga terlempar jauh dan jatuh dengan posisi terbalik. Kemudian, perahu tersebut berubah menjadi gunung yang dinamakan Gunung Tangkuban Parahu. Penyebab dinamakan Gunung Tangkuban Parahu karena bentuk gunung tersebut menyerupai bentuk perahu yang terbalik ketika dilihat dari arah selatan. Daftar Pustaka Barthes, R. 1986. Elements of Semiology. Translated by Annette Lavers and Colin Smith. New York Hill and Wang. Barthes, R. 1972. Mythologies. Translated by Annette Lavers. New York The Noonday Press. Berger, A. A. 2010. The Objects of Affection Semiotics and Consumer Culture. New York Palgrave Macmillan. Brown, K., & Miller, J. 2013. The Cambridge Dictionary of Linguistics. New York Cambridge University Press. 2016. Cerita Sangkuriang dan Asal-usul Gunung Tangkuban Perahu. Dipetik Oktober 11, 2020, dari Kemdikbud. 2016. KBBI V Daring. Dipetik Desember 10, 2020, dari Mahsun. 2014. Metode Penelitian Bahasa. Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Edisi Revisi. Jakarta Rajawali Pers. Satjadibrata, R. 1954. Kamus Basa Sunda. Djakarta Perpustakaan Perguruan Kementerian P. P. dan K. Saussure, F. d. 2011. Course in General Linguistics. Translated by Wade Baskin. New York Columbia University Press. Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta Sanata Dharma University Press. Sugono, D. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta Pusat Bahasa. Yelly, P. 2019. Analisis Makhluk Superior naga dalam Legenda Danau Kembar KajianSemiotika Roland Barthes; Dua Pertandaan Jadi Mitos. Jurnal Serunai Bahasa Indonesia , 162, 121-125. ... Vulkan Tangkubanparahu memiliki bentuk seperti perahu yang terbalik yang dalam legenda diceritakan sebagai perahu yang ditendang oleh Sangkuriang hingga terbalik. Keterkaitan antara toponim dengan legenda ini telah terkonfirmasi melalui studi semiotika yang mengungkap makna denotatif dan konotatif dari nama Tangkubanparahu Munandar dan Indira, 2021. ...Keith BrownJim MillerThe Cambridge Dictionary of Linguistics provides concise and clear definitions of all the terms any undergraduate or graduate student is likely to encounter in the study of linguistics and English language or in other degrees involving linguistics, such as modern languages, media studies and translation. lt covers the key areas of syntax, morphology, phonology, phonetics, semantics and pragmatics but also contains terms from discourse analysis, stylistics, historical linguistics, sociolinguistics, psycholinguistics, computational linguistics and corpus linguistics. It provides entries for 246 languages, including 'major' languages and languages regularly mentioned in research papers and textbooks. Features include cross-referencing between entries and extended entries on some terms. Where appropriate, entries contain illustrative examples from English and other languages and many provide etymologies bringing out the metaphors lying behind the technical terms. Also available is an electronic version of the dictionary which includes 'clickable' of Semiology. Translated by Annette Lavers and Colin SmithR BarthesBarthes, R. 1986. Elements of Semiology. Translated by Annette Lavers and Colin Smith. New York Hill and Translated by Annette LaversR BarthesBarthes, R. 1972. Mythologies. Translated by Annette Lavers. New York The Noonday Sangkuriang dan Asal-usul Gunung Tangkuban Perahu. Dipetik Oktober 11, 2020, dari HistoriId 2016. Cerita Sangkuriang dan Asal-usul Gunung Tangkuban Perahu. Dipetik Oktober 11, 2020, dari 2014. Metode Penelitian Bahasa. Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Edisi Revisi. Jakarta Rajawali in General Linguistics. Translated by Wade BaskinF D SaussureSaussure, F. d. 2011. Course in General Linguistics. Translated by Wade Baskin. New York Columbia University SugonoSugono, D. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta Pusat Makhluk Superior naga dalam Legenda Danau KembarP YellyYelly, P. 2019. Analisis Makhluk Superior naga dalam Legenda Danau Kembar KajianSemiotika Roland Barthes; Portal Kudus - Inilah cerita legenda Tangkuban Perahu dalam Bahasa Jawa beserta unsur intrinsiknya lengkap dengan amanat yang terkandung. Bagi kalian yang bingung dan mencari ringkasan cerita legenda Tangkuban Perahu singkat dan unsur intrinsiknya, simak artikel ini hingga selesai. Artikel ini akan menyajikan teks cerita legenda Tangkuban Perahu Bahasa Jawa lengkap dengan amanat yang terkandung guna menjadi panduan belajar kalian. Baca Juga CONTOH Naskah Ketoprak Bahasa Jawa Singkat, Padat dan Jelas Berisi Dialog 6 Orang Kisah Roro Jonggrang Sebelum menuju ke ceritanya, simak dahulu dan pahami inti cerita legenda Tangkuban Perahu berikut. Pada intinya legenda Tangkuban Perahu adalah seorang pemuda yang bernama Sangkuriang ingin menikahi seorang wani bernama Dayang Sumbi yang berparas cantik. Mereka saling jatuh cinta, namun Dayang Sumbi tahu bahwa Sangkuriang adalah anaknya melalui bekas luka di kepala Sangkuriang. Baca Juga RINGKASAN Asal Usul Kota Surabaya dalam Bahasa Jawa Singkat Lengkap dengan Amanat yang Terkandung Nah langsung saja simak berikut ini ringkasan teks cerita legenda Tangkuban Perahu singkat dan unsur intrinsiknya;

legenda bahasa jawa tangkuban perahu